Bismillah.
Sore petang yang mataharinya sudah hilang dilitup awan,
usai berbuka semuanya buka lagi bicara,
kisah berkisar alam dewasa,
alam setelah belajar,
alam mendiri,
dan aku disitu terdiam dan menyepi,
merenung nasib yang telah dianugerah Ilahi.
beberapa jam sebelumnya hati aku terusik,
saat aku dapat balasan dari dia,
katanya permohonanku terpaksa ditolak,
keyakinan diriku makin melemah,
yang mana perlu dibetulkan,
yang mana kurang dimatanya,
yang mana cacat dan cela,
maka aku teriakkan dalam hati sendiri.
Sedih dan terluka,
bukan kerana aku tak dapat menerima ketentuan Ilahi,
sungguh aku serahkan setiap ketentuan hidupku padaNya,
tapi yang nama manusia tak lari dari berperasaan,
maka yang tinggal untukku batasi perasaan itu,
agar aku bukan tergolong yang kufur.
saat ini satu-satunya yang aku rasakan,
lemah dan sangat lemah,
setiap satu angan dan impian bertahun lalu tiada tergapai,
menjadi pelajar paling cemerlang,
mempunyai pekerjaan yang besar,
bertemu dengan si dia yang memahami,
maka tiap satu itu disimpan dulu,
kecuali yang tinggal cuma satu,
menjadi hamba Dia yang lebih mengimani syahadah itu,
walaupun itu cuma pra sangka sendiri,
aku yakin aku lebih memahami erti kalimah itu kini,
yang bukan membuta tuli lagi aku turuti.
menjadi lemah dan selemah,
miskin dan semiskinnya dihadapanNya,
maka itu membuka ruang lagi besar,
untuk sesuatu yang lebih baik,
sesuatu yang telah ditetapkan,
dengan izinNya dengan takdirNya,
aku doakan kelemahan ini menjadi tunjang,
untuk sesuatu yang lebih kuat,
sesuatu yang lebih cekal,
sesuatu yang lebih manis,
pada akhir pertemuan aku dan Dia nanti.
amin.
Sore petang yang mataharinya sudah hilang dilitup awan,
usai berbuka semuanya buka lagi bicara,
kisah berkisar alam dewasa,
alam setelah belajar,
alam mendiri,
dan aku disitu terdiam dan menyepi,
merenung nasib yang telah dianugerah Ilahi.
beberapa jam sebelumnya hati aku terusik,
saat aku dapat balasan dari dia,
katanya permohonanku terpaksa ditolak,
keyakinan diriku makin melemah,
yang mana perlu dibetulkan,
yang mana kurang dimatanya,
yang mana cacat dan cela,
maka aku teriakkan dalam hati sendiri.
Sedih dan terluka,
bukan kerana aku tak dapat menerima ketentuan Ilahi,
sungguh aku serahkan setiap ketentuan hidupku padaNya,
tapi yang nama manusia tak lari dari berperasaan,
maka yang tinggal untukku batasi perasaan itu,
agar aku bukan tergolong yang kufur.
saat ini satu-satunya yang aku rasakan,
lemah dan sangat lemah,
setiap satu angan dan impian bertahun lalu tiada tergapai,
menjadi pelajar paling cemerlang,
mempunyai pekerjaan yang besar,
bertemu dengan si dia yang memahami,
maka tiap satu itu disimpan dulu,
kecuali yang tinggal cuma satu,
menjadi hamba Dia yang lebih mengimani syahadah itu,
walaupun itu cuma pra sangka sendiri,
aku yakin aku lebih memahami erti kalimah itu kini,
yang bukan membuta tuli lagi aku turuti.
menjadi lemah dan selemah,
miskin dan semiskinnya dihadapanNya,
maka itu membuka ruang lagi besar,
untuk sesuatu yang lebih baik,
sesuatu yang telah ditetapkan,
dengan izinNya dengan takdirNya,
aku doakan kelemahan ini menjadi tunjang,
untuk sesuatu yang lebih kuat,
sesuatu yang lebih cekal,
sesuatu yang lebih manis,
pada akhir pertemuan aku dan Dia nanti.
amin.

No comments:
Post a Comment